Etika Menelepon February 29, 2008
Posted by munggaran in Etika.add a comment
Sekarang telepon sudah tidak asing lagi di kehidupan kita, hampir semua orang punya handphone, bahkan bukan cuman satu…., ada yang dua atau tiga, malah sampai punya tas sendiri khusus handphone. Kadang kita suka jengkel dengan penelepon yang tidak diketahui dan asal ngomong : “halo… ini siapa !!??”, lalu kita tanya balik “lah… ini sendiri siapa ??”, sehabis itu malah ditutup sama orang disana “tuut… tut… tutt..”, jengkel engga sih ???, disinilah diperlukannya etika menelepon.
- Handphone Pribadi
Dari namanya aja udah pribadi, artinya tu henpon dilarang di otak-atik tanpa izin pemiliknya, didalamnya bisa saja ada sms pribadi, rahasia, atau hal yang tidak di-inginkan orang lain untuk tahu, tidak terkecuali orang tua kepada anaknya atau karena handphone suami/istri/pacarnya, privasi tetap privasi, titik. Mintalah izin terlebih dahulu. - Sebelum menelepon
Pastikan tujuan pembicaraan yang akan kita lakukan, jangan sampai pas udah nelpon malah bingung “mau ngomong apaan yah tadi….”, cobalah untuk mendaftarkan apa-apa saja yang akan kita utarakan dipikiran kita, kalau ada banyak yang mau ditanyakan, jangan malu-malu untuk mencatat terlebih dahulu, kan engga lucu kalau pembicaraan sudah selesai : “oke deh mas, sampai jumpa besok dikantor”, terus nelpon balik “eh lupa mas tadi saya mau nanyain blablablabla….” - Memulai Menelepon
- Yakinkan nomor yang akan dihubungi sudah benar, kan engga lucu kalau tadinya mau menghubungi rumah pacar terus nyambungnya malah ke kantor polisi.
- Awalilah pembicaraan ketika terdengar nada diangkat lawan bicara dengan menyebutkan identitas dan tujuan lawan bicara (tips. menambahkan salutation Mister, Pak, Ibu, dsb akan lebih baik), contoh : “halo nama saya Joni dari Bandung, bisa berbicara dengan Ibu Susan ?”
- Lihat ke lingkungan sekitar, pastikan suara kita engga terlalu kencang, nanti orang lain bisa berpikir “ni orang nelpon suaranya kenceng-kenceng amat…, tukang sayur langganan saya aja kalah…”
- Fitur Henpon
- Suara henpon sekarang emang canggih-canggih, tapi kasihan orang lain yang bisa merasa terganggu kalau henpon kita bunyi terus karena ring-tone-nya pakai musik dangdut. Saya paham kalau ada alasan “emang ada fiturnya koq, ngapain diadain kalo engga dipakek”, tapi coba deh kalo kamu lagi konsentrasi kerja, sementara disebelah ada suara henpon bunyi-bunyi terus entah SMS atau Panggilan.
- Lihat Tempat
- Selalu gunakan mode silence ketika berada ditempat meeting, bioskop, kantor.
- Matikan telepon ketika sedang berada di kondisi butuh konsentrasi, misalnya sembahyang atau sedang rapat penting supaya tidak ada interupsi yang terjadi. Fitur operator umumnya sekarang sudah mendukung pemberitahuan panggilan yang terjadi ketika handphone dimatikan, jadi nomor-nomor yang tidak terjawab bisa dihubungi ketika henpon sudah kembali ON.
Ketergantungan VS Moderenisasi February 29, 2008
Posted by munggaran in Ide & Pendapat.add a comment
Saya sempat membayangkan kehidupan di masa depan akan serba digital, serba otomatis dikerjakan oleh mesin. Dimana manusia semenjak dilahirkan sudah dituntun untuk melakukan “pengoperasian” alat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Dalih yang dikemukakan manusia akan hal ini tak lain “kemajuan peradaban”, “difusi pengetahuan”, “efesiensi”, dan lain sebagainya.
Dibalik semua itu terdapat mimpi buruk yang bisa mengembalikan peradaban manusia kembali ke titik mulai, yakni peradaban yang “tidak aman”, seperti adanya sekarang manusia sudah menggunakan mesin otomatis untuk menjalankan tugas mereka dimana alat-alat tersebut sangat bergantung pada hal lain, semisal lampu membutuhkan listrik.
Apa yang terjadi apabila sebagian besar pekerjaan manusia yang sudah terwakili oleh alat-alat otomatis tersebut pada suatu saat mengalami kecelakaan atau krisis hubungan ?, seperti habisnya minyak bumi. Dan apa yang terjadi apabila manusia berhasil mendifusikan efisiensi sehingga hampir semua pekerjaan dapat dilakukan mesin, apa yang akan manusia lakukan ?, apakah manusia akan sampai ke taraf “meninggalkan pekerjaan” ?
Sebagai contoh kasus, manusia modern sekarang sudah menganggap hutan hanya sebagai lahan penghijauan dan wisata. Padahal bukankah dulunya manusia berburu di hutan untuk mencari makanan ?, meskipun teknologi menjawabnya dengan berternak hewan, apakah manusia semestinya melupakan cara yang paling mendasar (berburu) ?, bagaimana apabila teknologi yang ada ternyata memberikan dampak yang buruk bagi manusia seperti pencemaran lingkungan.
Disamping mengetahui cara hidup moderen, manusia seharusnya juga mengetahui cara hidup primitifnya untuk alasan keamanan kehidupannya.
Keajaiban January 3, 2008
Posted by munggaran in Ide & Pendapat.4 comments
Keajaiban, sesuatu yang diartikan manusia umumnya sebagai kejadian yang tidak biasa, tidak wajar, kadang terkandung unsur mistik, atau lain sebagainya. Keajaiban yang akan saya coba kemukakan merupakan pemaparan ilmiah. (more…)
Making Lazarus Portable October 15, 2007
Posted by munggaran in Saya & PC.add a comment
- First, you (of course) need the Lazarus Installation, get it from www.lazarus.freepascal.org (more…)
baru dan asli, atau lama dan kontemporer October 11, 2007
Posted by munggaran in Ide & Pendapat.add a comment
beranjak dari penelitian ilmuwan, bahwa manusia sekarang pada umumnya hanya menggunakan 3%-6% otaknya, saya mencoba membandingkan dengan sistem yang kita sudah kembangkan ; “Komputer”.
prosesor komputer selalu bekerja dalam usaha linear satu arah pemrosesan, hanya saja banyak dikembangkan pemecahan kerja berbagi tugas (multitasking) sehingga operasi pengerjaan suatu proses diasumsikan dapat dikerjakan bersama-sama, ini hanya trik, sebenarnya tidak ada yang sifatnya multitasking, kecuali untuk seseorang yang memiliki dua kepribadian, seperti halnya dual processor yang sedang marak saat ini.
namun, bagaimanapun juga, manusia hanya terus berkutat membagi proses, mengapa mereka tidak meningkatkan kerja individunya ?, individu 3%-6% pemrosesan menjadi lebih baik. Dibalik semua ini, prediksi saya terpaut kepada masalah ekonomi, politik, dan aspek lainnya yang membuat perkembangan selalu berlandaskan kepentingan kepuasan marginal, suatu keuntungan yang dicapai ketika sesuatu yang hebat dikembangkan perlahan-lahan.
pertanyaannya : apakah perkembangan 3%-6% manusia juga sama dengan perkembangan komputer ?, bersifat keuntungan marginal ?, saya memiliki keyakinan bahwa setiap individu memiliki pilihannya masing-masing…….
Step-by-step cara menulis font jepang menggunakan Windows XP October 8, 2007
Posted by munggaran in Saya & PC.21 comments
Tutorial ini akan menjelaskan langkah-langkah cara menulis font jepang menggunakan Windows XP
(more…)
Windows XP yang cakep dan optimal. October 8, 2007
Posted by munggaran in Saya & PC.1 comment so far
Disini gue mau ngejelasin gimana caranya ngebikin windows supaya jadi “asik” buat dipake maen game/internet/development, dll.
(more…)
Logical Imposibility July 30, 2007
Posted by munggaran in Ide & Pendapat.1 comment so far
Keinginan……
Setiap niat berupa “keinginan” itu terbesit didalam diri manusia, dibalik semua itu terdapat untaian-untaian pikiran baik yang logis atau yang tidak logis….
Logika jika A maka B, jika B maka C, akan membentuk silogisme jika A maka C. (more…)
Keraguan Jawaban Pasti July 16, 2007
Posted by munggaran in SummerFlower.add a comment
Maafkan aku yang seringkali menyembunyikan hati kecil ini, aku membuatnya pergi mencari jawaban sendiri, kini aku bersandar diantara dua bayangan pertanyaan untuk terus atau diam. Bila keyakinan yang kupahami ternyata tidak sanggup untuk menemukan-Nya, aku hanya bisa menanti merindukan kejujuran nuraniku.
Ibu pertiwi, bila engkau menyembunyikan pesan-Nya untuk kemengertianku, simpanlah alasanmu, dan kumohon beritahukan jalan yang lurus itu.
Ruang dan waktu, tak henti-hentinya aku selalu menganggapmu sebagai bagian dari keberadaanku, namun yang pasti engkau akan berakhir diakhir dunia yang fana ini, dan aku akan menyadari bahwa engkau hanya bagian dari ciptaannya yang lain, waktu yang lain, dan ruang yang lain seperti adanya aku.
Aku ingin ada ditaman dan berlari mengejar awan yang menutup mentari, kemudian mengganggap semua kefanaan itu adalah yang terbaik yang dapat kuperoleh hingga utusan-Nya memberiku pelajaran untuk hidup didalam keabadian, tanpa taman, tanpa awan, tanpa mentari, tanpa……… aku.
Dimanakah harta yang terpendam itu ?, aku ingin melihatnya Ya Tuhanku….., kumohon berikanlah aku sebutir atau setengah butir api semangatmu untuk secukupnya membakar jiwa-ku yang malas menghadapi liku panggung sandiwara egois dan tidak tahu diri ini.
Aku tahu engkau begitu dekat dan nyata.
Ketika prinsip modern bertemu dengan manusia primitif. July 12, 2007
Posted by munggaran in Ide & Pendapat.add a comment
Cerita yang sedikit lucu mengisahkan tentang obrolan antara pasien dan dokter gigi sbb :
Pasien : “dok…, gigi saya sakit, sudah saya tambal, tapi masih sakit dok…, sebaiknya harus diapakan ?”
Dokter : “coba saya periksa……”
sejenak tengok sana sini, tela’ah sana sini…., akhirnya si dokter mengakhiri pemeriksaannya…….
Dokter : “sepertinya gigi anda sudah terlalu keropos untuk ditambal…., saya tidak bisa memberikan saran lain selain dicabut, jadi bagaimana ?”
Pasien : “baiklah kalau memang yang terbaik dicabut, cabut saja pak…….”
……kemudian si dokter memulai operasinya, dengan sangat hati2 dia mencabut gigi sang pasien.
Berkat keprofessionalan sang dokter, operasi tersebut hanya berlangsung tidak lebih dari 2 menit saja, dan berakhirlah penderitaan sakit gigi si pasien….., kemudian si dokter dan sang pasien duduk kembali dan terjadilah dialog :
Dokter : “sudah pak…, ini satu gigi sudah saya cabut, biayanya 2 juta rupiah”
Pasien : “APAAA !!!, OPERASI 2 MENIT 2 JUTA RUPIAH !!!!, MAHAL AMATTT !!!!!”
Dokter : “Kalau bapak mau 2 minggu juga bisa pak…., lain kali gigi bapak ada yang sakit lagi, itu bisa saya atur….”
Pasien : “wah…, ga mau donk…., saya maunya cepet…….”
Dokter : “itu dia pak…., justru karena saya melakukannya dengan cepat dan professional, harga pencabutannya segitu…., apa bapak mau dicabut dua ratus ribu tapi operasinya 2 minggu ?”
Pasien : “ya ga mau lah……, tapi koq bisa mahal begitu sih ?”
Dokter : “wah ceritanya bisa engga habis kalau mau dibahas semua pak….”
Pasien : “maksudnya “
Dokter : “coba bapak renungkan…, untuk jadi dokter spesialis membutuhkan sekolah hampir 10 tahun…, saya harus mengorbankan waktu, biaya, dan umur yang tidak sedikit…., selain itu saya harus membuka izin praktek dan biaya sewa tempat untuk praktek saya ditambah membeli peralatan yang mahal-mahal juga obat-obatan yang tidak sedikit, menurut anda, sebandingkah usaha saya selama 10 tahun untuk mencabut gigi anda dengan aman seharga 200 ribu saja ?”
Pasien : “oh…, iya juga ya pak…., saya mengerti sekarang….”
Begitulah kadang kita berasumsi terhadap sesuatu yang seakan-akan merugikan kita, padahal dibalik semua itu ada maksud yang terbaik untuk kita.
Pertanyaan yang harus kita coba renungkan : “Apakah ada pemikiran yang sejenis dengan masalah ini, yang sudah tertanam didalam kehidupan sehari-hari kita, sementara kita selalu menanyakan kenapa begitu sih ?, padahal semua itu sudah berjalan dijalan yang terbaik untuk kita (baca:kita sering mencoba merubah jalannya sehingga justru kita menyesal)”